Throwback time….
Kali ini aku ingin menceritakan
tentang pengalaman KKP (Kuliah Kerja Profesi)-ku di daerah Sukabumi, tepatnya
di desa Margaluyu, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi beberapa tahun yang
lalu. Dan ini juga pertama kalinya aku merasakan bagaimana tinggal di daerah
yang benar-benar jauh dari hiruk pikuk atau bisa dibilang agak sedikit
tertinggal. Kendaraan menuju ke sana pun harus oper beberapa kali, dari mulai
naik kereta (Bogor-Sukabumi), angkot oper 2 kali, terus naik ojek buat nanjak
ke atas. Huaaaaa seru-seru menegangkan gitu deh haha. Tapi kadang kalo ada kendaraan
pick up yang berbaik hati mau ngasih
tumpangan ke kita, kita bisa memangkas biaya, sekaligus oper-oper kendaraan
hehe.
Bulan Juni tahun 2014, kita
memulai ekspedisi kita menuju desa Margaluyu. Hari pertama KKP diawali dengan
acara penyambutan di kantor kecamatan. Sekitar satu jam penyambutan, kita mulai
disebar menuju desa yang ditunjuk oleh dosen kita masing-masing. Dan kita salah
satu kelompok yang mendapat daerah yang “sesuatuuuhlah” kalo kata Syahrini. Kita
diantar ke sana dengan menggunakan kendaraan patroli polisi (wait, tapi kita bukan buronan lho yaa). Awalnya
track menuju ke sana datar-datar aja
masih banyak rumah, lama-lama jalanan banyak yang lubang-lubang dan mulai nggak
ada rumah yang ada hanya kebun, dan puncaknya kita harus nanjak dengan jalan
bebatuan yang tajam dan di sebelah kanannya jurang yang ditanami pohon jabon
menjulang tinggi. Seru sih, seru banget malah. Tapi kalo kalian naik motor,
kalian banyak-banyakin doa deh, dan pegangan motor erat eraaat. Tapi kalo
kadang khilaf, jaket tukang ojeknya pun jadi sasaran hehe. Daaaan jeng jeng!
Akhirnya sampailah kita di desa yang akan menjadi tempat peraduan kita selama 2
bulan. First impression tentang desa
Margaluyu yakni desa yang benar-benar masih alami, karena masih jarang
rumah-rumah penduduk, dan sebagian besar masih tanah perkebunan, sawah, dan
hutan. Jalanan di sana penuh bebatuan
dan menanjak. Jadi, kalo mau keliling desa lebih enak jalan kaki daripada naik
kendaraan.
 |
Ini jalanan desa Margaluyu yang masih bebatuan |
|
Di minggu-minggu pertama, kita masih
belum melakukan apa-apa. Kita masih membuat rancangan program yang sesuai
dengan kondisi desa setempat. Sebenarnya, kita lebih banyak mager daripada
diskusi. Yayaya, itu mungkin suatu bentuk penyesuaian diri kita terhadap
keadaan di sana haha. Soalnya kita melakukan KKP di awal bulan puasa, dengan
cuaca di sana yang sangat-sangat dingin, ditambah lagi hujan tiap hari. Huuuu bisa bayangin kan magernya
kita hehe. Jujur, aku di sana jarang banget mandi (ups, buka aib). Pertama,
faktor cuaca yang dingin, membuat hidung ini sering banget meler (yaps, aku
alergi dengan cuaca dingin). Kedua, kita mendapat tempat tinggal yang kamar
mandinya di luar (kamar mandi umum) dimana airnya keluar hanya sepersekian
detik, dan akhirnya mati, gak ada air daaaan sekalinya kita keluar rumah, geng
gukguk udah nungguin, sambil ngikutin dari belakang (huaaaa, nightmare bangetlah kalo aku). Ketiga,
kalo airnya mati kita terpaksa mandi di jamban deket sawah, di mana lokasinya
agak sedikit terbuka dan airnya sedikit keruh. Keempat, menghemat cucian baju
haha. Yaa, seperti itulah…
 |
Rumah pertama tempat tinggal kita selama sebulan |
 |
Geng gukguk | | | |
|
 |
Jamban di sawah |
|
Minggu berikutnya kita mulai melakukan
ekspedisi. Kita membagi beberapa orang (ada yang berdua dan bertiga) untuk
melakukan survei di beberapa dusun, kebetulan kita ber-tujuh, enam perempuan
dan satu laki-laki. Kebetulan aku kebagian bersama temanku Ina, survei di dusun
yang dekat kantor desa (katanyaaa…). Aku dan temenku melakukan survei dengan
jalan kaki. Dan kalo jalan di sana lebih nyaman pake sandal jepit, gak perlulah
pake flat shoes atau sepatu cantik
lainnya. Karena pasti pulang-pulang sepatunya gak bakalan cantik lagi hehe. Perjalanan
pertama, ancer-ancer kita adalah kantor desa. Jalan dari tempat tinggal kita ke
kantor desa sekitar 3 km. Awalnya kita mengira dusun yang akan kita survei deket
kantor desa, dan ternyataaaa kita musti jalan 3 km lagi untuk menuju ke sana.
Jalanannya sangaaaat ruaaarrr biasa! Dari 3 km perjalanan itu kita belum
menemukan satu pun peradaban. Serius! Yang kita lihat dari tadi hanya sawah,
hutan, sawah, kebun. Pernah dari jauh terlihat seperti genteng rumah, naaaah
mungkin di situ ada peradaban, seolah-olah ada harapan dan eng ing eng ternyata
itu kandang ayam *hiks. Agak hopeless
juga sebenarnya, mau balik sayang, soalnya kita gak nemu rumah satu pun. Dan akhirnya
setelah penantian dan perjuangan panjang, kita menemukan dusun yang kita tuju. Tapiiii,
mesti banget nanjak lagi untuk menuju ke sana. Sampai di sana, kita dipersilahkan
masuk dan menumpang untuk salat zuhur. Sempet numpang rebahan, karena benar-benar
melelahkan, huh! Usai interview dengan bapak dusun, kita dianter pulang lewat
jalan belakang yang kata bapaknya lebih dekat lewat belakang, daripada lewat
jalan awal yang kita lalui. Emang benar-benar dekat, tapi kita berasa ninja
hattori. Naiiiiiiiiik banget, terus lewat kebun-kebun, naiiiiiiik lagi, terus
lewat tegalan. Sepanjang perjalanan berasa keimanan dan ketaqwaanku diuji, di
depan mata rasanya terbayang-bayang ada es teh manis, es jus, es buah, ah udah
ada air putih aja kita juga mau kok haha. Tenggorokan benar-benar kering
banget, haus banget! Tapi Alhamdulillah kita tidak goyah kok. Sampai di rumah
(tempat tinggal), kita benar-benar tepar. Perjalanan dari jam 9 pagi sampe jam
4 sore, membuat kita tak berdaya di kasur ukuran sepersekian meter wkwk. Tapi setelah
berlelah-lelah, rasanya terbayar sudah dengan minum es kelapa muda saat buka
puasa (cheeeersss, tenggorokan jadi adem haha).
Sebenarnya pada saat bulan puasa
kita tidak terlalu banyak program, hanya melakukan survei-survei dan melakukan
kunjungan ke sekolah dasar (SD). Nah waktu kunjungan ke SD kita menjalankan
program “Ayo Menabung!”, kita mengajari adek-adek kelas 1 dan 2 untuk membuat
celengan dari botol bekas. Dan kita hanya membantu mengguntingkan atau kalo ada
kesulitan memasang gambarnya, selebihnya mereka sendiri yang berkreasi. Pernah ada
salah satu siswa meminta bantuan ke aku, dan ini salah satu kendalaku dalam
ber-KKP. Ya, bahasa setempat. Meminta bantuan, tapi ngomongnya pake bahasa
sunda, karena rata-rata siswa di sana masih belum mengerti bahasa Indonesia. “Ehmmm
anu, ehmmm ituu” serius aku nggak ngerti apa yang dia maksud (zzzz….) Dan lama-lama
anaknya agak sedikit kesel, akhirnya aku manggil salah satu temenku untuk
membantu dia. Maafkaaaan *hiks. Usai bikin celengan, kita kemudian nyanyi-nyanyi
bareng, dan foto untuk kenang-kenangan. Yeaaaahhh….
 |
Foto bareng siswa-siswi SDN Puspadaya | |
Di pertengahan program KKP, kita
tidak melulu melakukan survei dan penyuluhan. Kita juga perlu melakukan liburan
bareng, dan coba tebak, kemana kitaaaa? Ke pantaaaaai ! Tujuan kita pergi ke
pantai Ujung Genteng. Perjalanan menuju ke sana luar biasa indaaaaaaah
(subhanallah…). Kalo kalian pernah lihat gambar pemandangan di
kalender-kalender, ya 11:12 lah sama pemandangan di kalender. Dari lewat sungai
yang warnanya ijo-ijo lumut terus ada perahu dayungnya, hutan cemara, sawah
yang ditanam kayak perbukitan (ini pemandangan yang sangat langka sekali), dan
banyaaaak banget pokoknya. Perjalanan di tempuh selama 5 jam, jadi PP 10 jam
haha. Sampai di sana benar-benar kalap, rasanya udah lama banget nggak lihat
pantai yang biru, beniiiing banget airnya, pasirnya putih tapi pasirnya masih
pasir karang yang terkena abrasi jadi agak sedikit sakit kalo jalan di pasirnya.
Tidak lupa juga melakukan dokumentasi momen liburan bareng yang sangat jarang terjadi
diantara kita para kelompok KKP hehe. Di sekitar pantai juga banyak penginapan
untuk wisatawan. Tapi sayangnya kita hanya melakukan liburan sehari, terhambat
karena deadline program juga. Jadi
kita tidak bisa berlama-lama di sana huhu.
 |
Pantai Ujung Genteng |
|
|
Usai berlibur, kembali ke program
KKP yang sudah dibuat. Sebenarnya saat melakukan program, kita juga mengalami
sedikit kesulitan mengingat anggota KKP kita paling sedikit, jadi tidak jarang
kita meminta bantuan kelompok sebelah. Sebenarnya KKP ini bukan hanya sekedar untuk
memenuhi sks mata kuliah, tapi mengajarkan banyak hal terutama soal kehidupan haha
(berrraat banget kayaknya), terus kita bisa mengenal satu sama lain sesama angkatan,
yang awalnya hanya senyam senyum aja kalo berpapasan jadi bisa cerita ngalor ngidul. Kadang usai KKP pun
rasanya kebersamaan kita masih belum bisa move
on, karena kita sendiri merasakan bagaimana rasanya berjuang bersama-sama
di tempat yang sama.
Mungkin itu cerita KKP yang bisa
aku tulis di blog yang tidak hits ini, terimakasih semuanyaaa Margaluyu-ers.
Kangen kalian, para ninja hattori Margaluyu haha.
-SS-